Ingin aku ingat sampai nanti di waktu yang tak terhingga; selamanya.
Sudah kalian baca kah tulisanku itu?
Seperti yang terlihat, aku menuliskan catatan itu pada bulan November tahun 2021. Hampir satu tahun yang lalu. Tiba-tiba beberapa malam yang lalu aku menemukan lagi tulisanku ini. Setelah aku baca lagi, hatiku seperti berada di ladang rumput yang ada di sebuah bukit-entah bukit mana yang aku maksud-Ia menari-nari sambil diterjang angin sore yang lembut dari segala arah.
Aku bahagia.
Btw, aku selalu menulis dimana-mana kapanpun aku mau. Kadang aku juga heran, oh aku pernah menulis sesuatu disini atau disitu.
Tentang catatan itu aku tidak ingat apakah aku sudah siap tidur, atau masih gelebak-gelebuk di atas kasurku. Satu hal yang ku ingat, aku memikirkan sesuatu tentang hari esok dan hari ini. Jujur aku agak ketakutan menghadapi tahun baru 2022 dan usia baruku, 23 tahun. Namun ketika aku coba menguraikan hal apa yang aku takutkan, aku tidak terpikirkan apapun. Belakangan aku tahu, yang aku takutkan adalah ketidakpastian. Padahal hidup dan ketidakpastian adalah hal yang tidak bisa dipisahkan bukan? Beginilah ketika kesehatan mental sedang terombang-ambing ya...
Saat itu, karena aku lelah berpikir mengenai ketakutanku. Aku membaca tulisanku pada kertas yang aku tempel di dinding kamarku, kertas itu bertuliskan "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya akan Aku tambah". Aku langsung kembali ke permukaan kesadaranku. Aku kembali berbincang dengan diriku sendiri:
Bahkan ketidakpastian itu tidak bisa kamu bayangkan, apa tidak capek berpikir itu dan itu lagi?
Lihat apa yang kamu punya hari ini, coba ingat kembali apa saja kebahagiaan yang kamu dapatkan saat ini, apa lagi yang kamu inginkan?
begitulah sel-sel di otakku menyusun pertanyaan untuk aku sendiri.
Jika abu-abu akan ketidakpastian ini bisa tercipta, maka ku ciptakan cahaya putih yang kunamakan harapan dan doa. Kutuliskan harapan-harapan untuk aku yang akan datang, bukan hanya skenario indah yang aku bayangkan, ku doakan pula aku agar diberi petunjuk dan kekuatan di skenario lainnya. Tidak mungkin 'kan kehidupan selalu membuat kita bahagia? Kalau kata buku, bersedih itu pilihan. Menurutku pun bahagia juga pilihan.
Aku amat sangat bersyukur atas skenario yang Tuhan tuliskan untukku. Aku telah melalui banyak hal yang menyakitkan, kemudian aku bisa merasakan hangatnya cinta, dan aku bahagia menerimanya. Sesungguhnya jika orang bertanya bagaimana cara untuk bahagia, aku akan menjawab "jangan terlalu banyak berpikir tentang hal-hal diluar kendali kita, lihatlah diri sendiri hari ini kenikmatan apa yang selalu dilimpahkan namun dilupakan?". Kalau menurutmu ini klise, mungkin kamu belum mencobanya atau belum berhasil mencoba.
Sampai hari ini, aku masih terus mengingatkan diri sendiri atas rasa syukur ini, rasa yang ingin aku ingat sampai nanti di waktu yang tak tehingga; selamanya.


Komentar
Posting Komentar