Rima Membaca : Almond Karya Shon Won-Pyung

     Awalnya aku diberi buku ini oleh salah satu teman kantorku. Aku sedang senang-senangnya membaca jadi aku tidak terlalu peduli dengan jalan cerita buku yang aku baca, aku hanya ingin membaca apa saja.

    "Almond" judulnya. Pertama kali aku membaca judul tersebut yang aku pikirkan "apa almond nama tokoh utamanya?" atau "apa ya maksudnya almond dijadikan judul buku ini?" atau "almond? kacang almond atau apa ya?". Pada buku ini tidak ada sinopsis yang dituliskan di sampul belakang buku. Sampul bagian belakang bertuliskan beberapa testimoni orang-orang setelah membaca buku ini.

    dan akhirnya aku mulai membaca dari awal hingga akhir buku ini.

---------------------------------------------

    Buku Almond karya Shon Won-Pyung menceritakan kisah seorang anak laki-laki bernama Yoonjae yang menderita kelainan pada salah satu bagian di otak, bagian tersebut adalah Amigdala. Amigdala berfungsi untuk mengatur proses emosi seseorang. Karena kelainan tersebut, Yoonjae tidak dapat merasakan emosi apapun dalam dirinya. Amigdala ini berbentuk seperti kacang Almond, dan dari situlah Penulis memberi judul Almond pada buku ini.

    Tokoh utama tinggal bersama dengan Ibu dan Neneknya, sejak kecil Yoonjae diajarkan oleh ibunya untuk "berpura-pura" mempunyai emosi. Contohnya ketika ada teman yang mendapatkan hal baik yang tidak terduga, alangkah baiknya jika ia menarik sudut-sudut bibirnya untuk tersenyum dan mengatakan "wah, aku ikut senang mendengarnya". Hal-hal mendasar yang seharusnya merupakan respons alamiah dalam diri manusia justru harus dihafalkan oleh Yoonjae setiap hari sejak ia kecil.

    Pada Malam natal, Yoonjae akan merayakan ulang tahun ke-10 nya bersama ibu dan neneknya di sebuah rumah makan. Peristiwa naas pun terjadi dan mengubah kehidupan Yoonjae. Seorang laki-laki sedang memegang pisau tiba-tiba menyerang ibu dan nenek Yoonjae. Si kecil Yoonjae tidak merasakan apa-apa ketika peristiwa itu terjadi. Ibu dan nenek Yoonjae bersimbah darah di depan matanya. Mereka dilarikan ke Rumah Sakit dan nenek Yoonjae meninggal dunia sedangkan ibu Yoonjae kritis.

    Tahun-tahun berganti, ibu Yoonjae masih belum bangun dari tidurnya yang panjang. Yoonjae menjenguk ibunya di rumah sakit setiap hari sepulang sekolah.

    Yoonjae masuk sebuah SMA dan dia bertemu Gon.

    Menariknya cerita pada buku ini adalah, apabila Yoonjae diberikan banyak cinta oleh Ibu dan neneknya namun dia tidak dapat merasakan emosi apa-apa, Gon justru kehilangan orang tuanya sejak kecil dan haus akan cinta. Gon berpindah dari panti asuhan satu ke panti asuhan lainnya, diadopsi oleh suatu keluarga dan dibatalkan adopsinya, kemudian bertemu dengan ayah kandungnya di ketika dia masuk SMA. Gon mempunyai karakter yang keras dan kuat untuk menutupi kepribadian aslinya yang bahkan tidak tega melihat serangga kesakitan.

    Perbedaan karakter dan latar belakang pada dua tokoh di buku ini ternyata justru saling melengkapi apa yang hilang dari masing-masing tokoh. 

    Gon sangat penasaran dengan Yoonjae yang diberi julukan monster di sekolahnya. Gon pun merundung Yoonjae dengan segala cara dengan harapan Yoonjae akan takut atau menurut padanya. Namun karena amigdala Yoonjae yang kecil, dia tidak merasa takut sama sekali dan itu membuat Gon kesal.

   Singkat cerita, akhirnya Yoonjae dan Gon berteman. Gon sering mendatangi Yoonjae di toko buku bekas milih ibu Yoonjae dan mereka akhirnya lebih sering mengobrol.

    Suatu hari Gon bertengkar dengan ayah kandungnya dan Gon memutuskan untuk pergi mencari salah seorang senior di panti asuhannya dahulu. Chaebol namanya. Dia dikenal sebagai orang yang kuat dan tidak takut akan apapun, berkarakter keras dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.

    Berhari-hari Gon menghilang, Yoonjae pun mencarinya hingga sampailah dia di tempat Gon berada. Tempat itu kumuh dan gelap, Gon terlihat kurus dan terluka. Yoonjae mengajak Gon untuk kembali ke rumah namun Gon menolaknya dan meminta Yoonjae pergi. Ketika mereka sedang bersama tiba-tiba Chaebol datang dan menantang Gon untuk membuktikan dirinya bahwa dia tidak punya kelemahan apapun. Gon diminta untuk menusuk Yoonjae, satu-satunya teman baginya. Sambil bergetar Gon menyerang Chaebol dan meminta Yoonjae untuk pergi dari situ. Chaebol melakukan serangan balasan dengan pisau ditangannya namun Yoonjae melindungi Gon dengan tubuhnya, akhirnya Yoonjae yang terkena serangan Chaebol.

    Melihat Yoonjae yang terluka, amarah Gon memuncak dan ia menyerang Chaebol hingga Chaebol tidak sadarkan diri. Polisi dan ambulance datang menyelamatkan Yoonjae dan Gon. Yoonjae melakukan pemulihan di Rumah Sakit, dan Gon dibawa ke pusat rehabilitasi untuk menstabilkan dirinya. 

    Pada akhir cerita, Yoonjae dan Gon baik-baik saja dan mereka masih berteman. Yoonjae bisa merasakan emosi dan kepeduliannya sedikit demi sedikit bertumbuh hasil dari apa yang dia alami, Gon pun belajar untuk menerima kelemahan dalam dirinya. 

    Omong-omong, ibu Yoonjae bangun dari tidur panjangnya dan digambarkan momen mengharukan pertemuan Yoonjae dan ibunya yang sudah lama tidak sadarkan diri. Pada momen tersebut, Yoonjae merasakan kehangatan pelukan ibunya dan dia meneteskan air mata.

    Iya, amigdala Yoonjae berhasil memproses emosi dalam dirinya.

------------------------------------------------------------------

    Indah sekali penulis mengolah emosi pembaca begitu rupa, Penulis menyusun tangga satu per satu dengan hati-hati dan saling terhubung untuk mewujudkan akhir cerita yang mengharukan. Bahkan sampai 3/4 buku aku belum begitu tersentuh dengan perjalanan Yoonjae yang belajar "merasakan" emosi manusia. Tapi benar-benar pada akhir cerita tangisku pecah membayangkan Yoonjae yang akhirnya bisa melindungi orang yang dia pedulikan, bisa memeluk dan hidup bersama dengan ibunya setelah bertahun-tahun hanya bisa melihat ibunya terbaring di atas kasur tidur rumah sakit, dan Yoonjae yang bisa merasakan sedikit demi sedikit emosi manusia.

    Buku ini menurutku tidak membosankan sama sekali karena pada setiap bagian kita selalu dibuat penasaran apa lagi yang akan Yoonjae alami karena titik awal cerita yang sudah menyedihkan untuk tokoh utama.

    Begitulah sedikit garis besar buku Almond Karya Shon Won-Pyung ini, semoga tulisanku ini bisa cukup menjelaskan. Semoga tulisanku sampai kepada kamu yang sedang mencarinya. 

Have a nice day!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah?

2023 sejauh ini

Bukan apa lagi