Wot Batu, Dago Pakar, Bandung
Pertengahan November ini, aku mengambil cuti beberapa hari untuk berlibur, beristirahat, dan melarikan diri dari segala hal di Jakarta. Aku nggak sendirian, aku pergi bersama salah satu temanku. Kali ini tidak banyak perencanaan, kami cuma pingin santai, makan enak, dan pergi ke tempat baru.
Hari itu sudah Hari Sabtu, hari kedua kami di Bandung. Kami mengobrol saling bertanya mau menghabiskan waktu dengan kemana atau melakukan kegiatan apa. Akhirnya setelah googling, kami memutuskan untuk menjadikan Wot Batu sebagai destinasi kami selanjutnya. Tadinya kami berencana untuk pergi di hari Sabtu, tapi untuk datang ke Wot Batu perlu melakukan reservasi terlebih dahulu. Saat mau melakukan reservasi, ternyata Hari Sabtu sudah full booked. Akhirnya kami memutuskan reservasi untuk kedatangan di keesokan harinya, yaitu Hari Minggu.
Dalam satu hari tersedia dua sesi kedatangan, sesi pertama untuk kedatangan pukul 10.00-13.00 WIB, sesi keduanya untuk kedatangan pukul 14.00-17.00 WIB dipatok dengan tarif IDR 50.000 per tiket. Reservasi dan pembelian tiket dapat langsung dilakukan melalui web.
Hari Minggu tiba, kami bangun agak pagi karena mau sarapan Nasi Hainan dulu di Jl Klenteng. Nama restonya Hap Seng Kee, klaimnya otentik Singapura. Rasanya enak, ada menu paket untuk dua orang sudah dapat paket Hainan, ca pokcoy, dan minuman beras...atau nasi.. ya itulah pokoknya. Kalau tidak salah hargana IDR 118.000 untuk paket dua orang.
Setelah selesai sarapan kami langsung memulai perjalanan ke Wot Batu. Lokasi Wot Batu ada di Dago Pakar, kami sampai di lokasi pukul 10 pagi. Kami langsung disambut oleh Bapak Security, beliau melakukan temperature check dan meminta kami cuci tangan terlebih dahulu sebelum masuk ke Wot Batu. Di loket sudah ada staff yang membantu kami untuk konfirmasi tiket, kami juga dijelaskan beberapa peraturan selama kunjungan di Wot Batu.
Kami diarahkan ke pintu masuk yang dibuat seperti lorong labirin, di kanan kiri adalah dinding batu tinggi, untuk jalannya dihiasi kerikil sehingga ketika kami berjalan diatasnya terdengar suara-suara kerikil yang bertabrakan. Lorong ini relatif kecil tapi tidak terasa sempit. Setelah melewati lorong, kami langsung dihadapkan dengan pemandangan yang sangat berbeda dengan diluar Wot Batu ini. Kami langsung melihat hijau dedaunan, danau kecil, rumput, pohon, batu-batu ukir karya Pak Sunaryo, dan di ujung Wot Batu tedapat kolam dengan konsep infinity pool yang dipinggirnya dihiasi dengan bebatuan pula.
Staff memberi informasi bahwa akan diadakan tour pukul 10.30 WIB. Kami memutuskan untuk mengikuti tour, sambil menunggu kami berkeliling sebentar mengambil foto ini itu. Kebetulan, waktu itu cuacanya mendung gelap seperti hampir hujan. Disana disediakan payung untuk pengunjung, jadi tidak perlu khawatir.
Waktu mendekati pukul 10.30, staff memberi infomasi lagi supaya kami berkumpul di dekat loket depan. Tour dimulai, staff memberikan penjelasan mengenai makna tiap karya Pak Sunaryo yang dipasang di Wot Batu ini dengan jelas dan sangat ramah. Tour mengelilingi Wot Batu tidak lama, mungkin kurang dari 30 menit. Oh ya, tiap tiket dapat ditukar dengan segelas welcome drink. Rasanya mirip dengan Wedang Uwuh dari Jogja, tapi disajikan dingin dan lebih asam.
Bercerita tentang karya Pak Sunaryo, aku sangat terharu mendengarkan penjelasan staff mengenai makna-makna dibalik tiap karya. Sejak pertama, pintu masuk dibuat seperti lorong dengan dinding tinggi dimaksudkan sebagai batas dunia luar dengan dunia "lain" yang diciptakan oleh Pak Sunaryo. Karya pertama paling dekat dengan pintu masuk adalah Batu Ambu dan Batu Abah, menceritakan tentang awal kehidupan seoarang manusia. Dilanjutkan dengan karya selanjutnya yang diartikan sebagai panggung kehidupan manusia, dilanjutkan lagi dengan karya yang menyerupai kapal yang diartikan sebagai kendaraan manusia menuju alam baka. Kapal ini mengarah ke karya berbentuk "lawang" atau gerbang dimensi lainnya, dan gerbang ini tepat berapada di hadapan kolam dengan konsep infinity pool lagi yang diartikan sebagai akhir dari perjalanan jiwa manusia.
Selain bercerita mengenai perjalanan kehidupan seorang manusia, Pak Sunaryo juga menceritakan tentang berbagai elemen dalam kehidupan yang divisualisasikan dengan karya Batu Angin, Batu Api, Batu air, dan Batu Bumi. Beberapa karya berpasangan untuk menciptaan keharmonisan dan keseimbangan.
Wot Batu "dibagi" menjadi dua bagian, yang dipisahkan dengan jembatan kecil menjadi sisi kanan dan sisi kiri. Di sisi kanan diisi cerita mengenai kehidupan dan elemennya. Di sisi kiri diisi dengan cerita logis dan dibangun bangunan semi indoor untuk duduk-duduk dan untuk penukaran welcome drink-nya. Di sudut lainnya diisi dengan smooking corner yang dihiasi tanaman hijau dan dihadapkan dengan pemandangan Kota Bandung dari ketinggian Dago Pakar.
Berada di Wot Batu benar-benar membuka pandangan dan pikiranku seluas-luasnya, mengingatkan kembali apa itu kehidupan dan menjadi hidup, bagaimana memelihara jiwa yang sedang dititipkan Tuhan kepada manusia, mengingatkan kembali bahwa manusia hanya setitik unsur dari kehidupan itu sendiri.
Meskipun aku dan temanku berjalan berdampingan, kami lebih banyak diam sambil berbicara dengan si aku di masing-masing kepala. Didukung dengan suasana yang tentram dan tenang, emosi kami tidak bisa tergambarkan.
Aku merasa bersyukur karena memutuskan untuk datang ke Wot Batu, highlight dari pelarian diriku dari Jakarta adalah pergi ke Wot Batu.
![]() |
| lorong pintu masuk |
![]() |
| Batu air dari sisi kiri Wot Batu |
![]() |
| Welcome drink |
![]() |
| Tour dipimpin staff |
![]() |
| aku aku aku! |
![]() |
| infinity pool, akhir perjalanan jiwa |

.jpeg)
.jpeg)



Komentar
Posting Komentar