Rangkuman Rasa 2022

     Menghitung angka yang bertambah dari tahun ke tahun selalu memberi banyak kesan untukku. Kesan utama yang mendominasi adalah harapan. Aku ingin, sekalipun sepanjang tahun ini banyak berpikir tentang mengapa aku melakukan ini dan bukan itu, atau mengapa hal ini terjadi padaku dan bukan itu, tidak ada penyesalan karena yang terjadi telah terjadi, dan yang aku miliki adalah hari ini dan esok hari.

    Aku belajar untuk berpasrah kepada Tuhan, bahwa kehidupan ini berada diatas jalur yang telah dibentuk dan tertulis oleh Tuhan, merasa cukup dan bersyukur, mengingat bahwa bahagia ada di dalam masing-masing diri manusia, menghargai setiap emosi yang terbentuk dan mengenalinya satu per satu, kemudian menutup telinga dan membuka hati untuk menerima sebuah kekecewaan.

    Membuka diri adalah hal baik yang dapat menciptakan hubungan antarmanusia, namun sepertinya aku terlalu terbuai dan membuka terlalu banyak pintu dalam diriku untuk terlalu banyak orang di sekitarku. Bukan hal yang buruk, tapi tidak berbagi adalah sebuah pilihan, kan?

    Banyak kebahagiaan yang tercipta karena momen-momen hangat di tahun ini, banyak teman yang ku temui, banyak cerita yang terbagikan dan dibagikan, banyak senyum dan tawa yang tercipta dari hal besar dan hal kecil. Ada pula beberapa kesedihan dan satu dua kali tangisan. Berada di titik keseimbangan itu membosankan, tapi merasakan senang dan sedih yang sepaket ini, tidak mudah dihadapi.

    Tidak lain dan tidak bukan, hal tersulit dalam hidup adalah serangkaian interaksi dengan orang lain. Terkadang aku terlalu luwes, terkadang aku terlalu keras, dan terkadang juga aku terlalu kaku. Padahal aksi interaksiku akan menimbulkan reaksi, dan aku tidak dapat mengontrol reaksinya.

    Kemudian hal sulit selanjutnya adalah menghadapi dan memproses kekecewaan. Satu-satunya cara yang kutemukan adalah menghadapinya hingga rasanya pudar dengan sendirinya. Beberapa orang sempat "mengejek", dan pada awalnya aku marah karena aku berpikir bagaimana bisa kekecewaan orang lain dijadikan bahan tertawaan? tapi lama-lama, ada benarnya, mari tertawakan saja hal-hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita daripada terus merasa kecewa. Mari menyusun hal indah lainnya, dengan harapan baru, di kesempatan baru.

    Aku percaya semua hal berubah dan berganti, cepat atau lambat, menuju arah yang lebih indah dengan cara mudah atau lebih susah. Saat kehidupan berada di fase terbawahpun aku hanya bisa mengandalkan keyakinan dan kepercayaan ini, bahwa di ujung perjalanan hidupku ada keindahan. Meskipun aku akan merasakan kesulitan, melakukan pengorbanan, banyak bersabar, dan membuka lebar hati untuk melakukan penerimaan, toh, yang aku lakukan ini adalah proses menuju keindahan. Orang-orang akan tetap mengantre untuk pergi ke tempat yang dia inginkan meskipun harus menunggu, kan?

    Terakhir, harapan di 2023, semoga apapun, bagaimanapun, dengan cara apapun, keyakinan ini terus menguat. Semoga selalu hadir rasa syukur dan cukup, sehat dan bahagia, bersedih secukupnya, kecewa secukupnya, berteman sebanyak-banyaknya, berbagi energi baik dengan orang lain, dan lebih handal dalam menerima kasih, menerima luka, menerima kehidupan dengan apa adanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah?

Serba serbi dengan kata "cukup"

2023 sejauh ini