Sedih Berkata "Mengapa Kau Hanya Memikirkan Bahagia?"

     Sejak Bulan November hingga hari ini, sangat banyak hal tidak terduga terjadi. Banyak persoalan ini dan itu tiba-tiba hadir. Sampai sekarang aku masih merasa kebingungan, namun waktu terus berlalu dan hari terus berganti. Tidak ada cara lain selain terus berjalan maju, bekas langkahku sudah melebur kembali kepada bumi.

    Kalau ditanya apa yang membuatku bertahan, jujur saja aku tidak menjadikan menyerah menjadi sebuah pilihan.

    Banyak hal baik yang masuk dalam rencana sebulan penuh di Bulan November kemarin, bukan lupa, namun aku tidak mengantisipasi hal-hal yang kurang baik dalam hidupku. Dimulai dengan energi positif menyambut bulan baru dengan bahagia dan optimis, dilanjutkan dengan ribuan hela nafas menahan beban ini dan itu, kemudian tertawa lagi, menangis sebentar, dan tersenyum lagi. 

    Kebahagiaan dan kesedihan adalah saudara kembar. 

    "true beauty is a true sadness" - Yun by RM

    Aku tidak tahu, bila yang selama ini aku alami hanya pengalaman bahagia, apakah aku bisa mengartikan bahagia dengan bahagia? karena kesedihan yang membuat kata bahagia ada, dan bahagia yang membuat kata kesedihan ada. 

    Siapa sih yang tidak mau bahagia?

    Bahkan kebanyakan manusia menjadikan kebahagiaan sebagai tujuan hidup, padahal rasa bahagia tidak memiliki ukuran. Bahagia juga abstrak. Apakah bisa menjamin rasa bahagia yang aku rasakan sama dengan rasa bahagia yang orang lain rasakan? Rasa bahagia setiap manusia berbeda dan tidak dapat dibandingkan, oleh karena itu perasaan ini menjadi topik yang tidak pernah usai untuk dibahas. 

    Namun, begitu pula dengan kesedihan, 'kan?

    Tindakan apa yang paling bijak untuk mengahadapi emosi bahagia dan sedih ini selain dengan rasa syukur dan berterima kasih? Toh, yang bisa kita lakukan adalah merasakan betul-betul bagaimana bentuk rasa bahagia dan rasa sedih itu. Mungkin masih banyak orang berusaha menghindari segala yang sulit, namun cepat atau lambat kita akan membuka diri atas rasa sakit itu, ketika kita sudah siap. 

    Penyembuhan tercepat dapat dilalui dengan merasakan perihnya kesedihan detik demi detik.

    Jujur, aku akan tetap menangis dan merasa tersakiti disaat aku mengatakan aku bersyukur dengan kesedihan yang aku hadapi. 

    Manusiawi.

    Tuhan membolak-balikkan duniaku secepat mataku berkedip, namun aku tetap merasa kasih-Nya selalu melindungiku meski aku tersandung, terjatuh, dan terlempar. 

    Minimal, itu yang ingin aku yakini. 

    Tidak ada rasa sulit yang sia-sia dan tidak ada sesuatu apapun hal abadi di bumi ini, semuanya akan berubah pada waktunya. Meskipun aku takut-takut melangkahkan kakiku dalam menjalani kehidupan, aku ingin terus berjalan, berlari, atau berhenti sejenak menyesuaikan tempo indah dalam naungan Tuhan. 

    Kehidupan adalah anugerah, namun bagaimana jika definisi "anugerah" itu sendiri terlalu berlebihan? 

    Setidaknya, mari buat kehidupan ini menjadi benar-benar hidup.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apakah?

2023 sejauh ini

Bukan apa lagi