Postingan

Apakah?

Penerimaan terhadap perubahan selalu saja sulit dijalani. Aku bingung mengisi kekosongan dengan apa, meskipun banyak hal bisa dilakukan, banyak waktu bisa dihabiskan, namun aku harus berani sendirian. Apakah aku sudah bukan pilihan bagi orang lain? Ataukah hatiku saja yang merindukan kebersamaan ini? Namun perubahan suatu keniscayaan. Jika aku tarik ke belakang, tahun 2015-2016 pernah ku katakan pada diri sendiri "tidak ada sulit yang sia-sia" namun semakin dewasa, proses itu berdurasi cukup lama, hingga sulit ku lihat baiknya. Apakah ini juga latihan untuk masa depan? Pengalaman apa yang menungguku di masa depan? Apakah hari ini adalah persiapan untuk itu? Banyak yang ku renungi dan pikirkan, terlalu banyak.

Roda Pertemanan

Rasa-rasanya, memang menulis adalah sarana utamaku untuk mengurai pemikiran dan perasaanku. Padahal, akhir-akhir ini aku coba mengganti sarana ini dengan membuat scrapbook , tetapi ternyata menulis lebih melegakan isi dalam diriku ini. Jadi, gemuruh dalam diriku tidak jauh-jauh dari itu dan ini. Aku percayai pikiran ini sebagai salah satu tahap dalam siklus bulanan wanita (supaya tidak terus ku cari-cari ujungnya itu). Hari ini aku memikirkan tentang roda pertemananku. Pertemanan memang silih berganti, pengalaman pun pasang surut, tapi hatiku selalu kebingungan menerima perubahan circle  ini karena kelekatan yang lalu. Aku pikir aku baik-baik saja dengan perubahan, aku pikir semua tetap indah bagaimanapun "jodohnya". Ternyata aku masih harus terus belajar untuk ikhlas akan ketidak-lekatan ini. Mengutip salah satu lagu NIKI berjudul "Paths", My youth is in your past You'll always have that and though it didn't last, I hope our paths cross again Katanya, musim...

Lagi, selamat datang tahun baru.

 Mengawali tahun 2025 dengan "happy birthday" ke dua puluh enam. Kali ini kekhawatiran menuju tambah usia sudah bukan permasalahan lagi. Hatiku lebih tenang dari tahun-tahun sebelumnya, pikiranku tidak berkelana terlalu jauh, namun duduk di tempat memfilter hal fakta dan angan-angan semata. Setengah tahun sudah aku tidak menulis, hidupku sungguh dihujani berkah Tuhan, Puji Syukur ku ucapkan setiap waktu. Beberapa bulan ini, rasanya banyak hal mengejutkan, tapi anehnya aku tidak terlalu terkejut lagi. Aku menjalani semuanya dengan perubahan emosi yang sangat cepat. Kaki dan perasaan terus bergerak, tidak selambat dahulu dalam menghadapi alur cerita penuh kejutan ini. Aku pikir, apa yang terjadi ini bisa aku lewati seperti hal-hal lainnya yang sudah-sudah, jadi menjadi khawatir dan tidak adalah pilihan mindset .  Ternyata, teman-teman akan terus akrab meski berjauhan dan tak punya quality time bersama. Benar bahwa pertemanan perlu dipelihara, namun caranya terus berubah seiring...

Lagi lagi semoga.

Pada akhirnya satu per satu beranjak mengejar cita dan cintanya masing-masing. Akan selalu aku doakan indah dan damai bagi semua yang ku cinta, temanku, perempuan-perempuan hangat nan lucu meskipun kadang tinggi kolesterol atau tekanan darahnya. Semoga kita sampai tua. ___________________________________________ Di usia ini, aku mengamati satu per satu teman-teman di sekitarku, yang bisa ku lihat langsung dengan mataku atau melalui layar handphone ku. Tidak banyak hal sulit yang mereka bagikan. Mungkin karena di usia ini kami mulai berpikir lebih tenang. Satu dua berbagi sedihnya dengan sukarela, sebagian lain perlu kita intip dulu sudut matanya. Ah, semoga Tuhan beri kau bahagia yang tak terkira. Mungkin memang kebahagiaan ini dan itu betul menerbangkan jiwa hingga bebannya gugur semua, namun kemudian kaki membumi juga. Lalu, yang ku pikirkan setelahnya, apakah hidup ini buat bahagia? Haha, betapa sempurnanya Tuhan menciptakan takdir kita.  ________________________________________...

Maret Perantauan

  Tanah perantauan membuat aku dan hatiku berubah-ubah. Seperti musim dan iklim, meskipun negeri ini hanya punya dua. Terkadang merantau terasa menyenangkan karena segala keramaian dan tawa yang dibentuk kebersamaan-sesama perantau-begitu rapi saling sapa. Namun terkadang sepi sendiri tidak terhindarkan karena seperti kotanya, segalanya bergerak cepat bukan hanya letaknya, tapi juga lakuannya. Ketika aku mulai belajar menghargai segala indahnya, musim telah berganti, dan penyesuaian harus diulangi sekali lagi.  - Tidak ada yang ku sesali saat aku meletakkan hatiku pada apapun di tanah ini. Entah pada yang hidup, entah pada yang tidak hidup, atau bahkan yang hanya terlihat hidup.  - Keikhlasan adalah pelajaran terbesar yang tidak pernah habis bab materinya, bahkan hingga nanti aku tua. Semoga saja aku tua. Semuanya akan berjalan apa adanya dan aku akan berusaha baik saja.

Rasa Syukur Lainnya

     Cerita ini adalah cerita tentang rasa syukur lainnya atas segala rahmat dan karunia Allah kepadaku, atas berbagai hal baik yang enggak henti-hentinya datang, mungkin bukan tiba-tiba, tapi di waktu yang tepat aja. Di hari-hari yang terus berubah ini, aku selalu ingin bersyukur dan belajar bahwa apa yang aku jalani akan terus menjadi pengalaman berharga sepanjang hidupku. Meskipun ada aja waktu ngeluhnya ya, hehe.       Mengeluh itu nggakpapa kok, karena rasa itu adalah energi negatif yang perlu dikeluarkan supaya diri kita bisa terisi dengan energi baik yang sudah mengantre di belakang. Cuman, mungkin memang pinter-pinternya kita aja buat memilih ruang mana yang cocok untuk menuangkan. Kalau sosial media terasa terlalu ramai dan menakutkan, tulis aja di notes digital atau buku catatan. Keluhan itu kalau hanya dibiarkan berputar-putar di kepala ya akan sulit meredanya.      Waktu aku kecil, takdir Allah terasa sangat sulit dan menyera...

Waktunya

akhirnya waktu membuatku bergerak lagi beranjak dari banyak diam yang melenakan dari hangat aman dan nyaman dan dari sejuk yang melegakan satu hari dua hari satu minggu dua minggu tiba lagi rela yang harus singgah merawat hatiku yang mencoba gagah mengeringkan luka yang terus basah menari bersamaku di ujung busur panah ku doakan baik terus mengudara bersama apa yang kau tanam ku doakan renyah tawa menggema bersama rasa tenang jiwa ku doakan cinta kasih mengiringimu kemanapun pergi tanah bumimu senyum, tersenyumlah biarpun rapuh, namun tidak patah  tibalah waktu untuk mengubah